Balaikota Yang Ingin Dibangun "Ber-Estetika Tapi Tidak Ber-Etika"
Siberzone.id, Bengkulu - Heboh dengan rencana yang akan di bangunnya BALAIKOTA baru di Bengkulu cukup menggelitik saya. Desainnya indah perpaduan antara budaya India dan Timur Tengah, justru ada yg berpaham itu nanti akan bisa menjadi destinasi wisata di Bengkulu...! Kita ini hidup dalam masyarakat "ADAT", pelajaran di sekolah dulu : " DIMANA BUMI DI PIJAK DI SITU LANGIT DI JUNJUNG" adalah pelajaran supaya kita pandai pandai menghormati adat setempat.
Manusia melahirkan budi, budi melahirkan Budaya dan adat istiadat. Syari'at Islam terbentuk banyak berdasarkan "URF" dalam istilah kita "ADAT/TRADISI/BUDAYA". Jadi syariat Islam di bangun konteksnya adalah menghormati tradisi budaya setempat dalam istilah agama di sebut "URF". Jadi seharusnya para pengambil kebijakan jangan asal bangun, jangan asal bagus lantas di adopsi.
Balaikota adalah simbol kota Bengkulu. Segak, Tegak, Lagak, maka ketika orang melihatnya ada Lagaknya Bengkulu. Contoh saja tugu "TABOT" di beberapa sudut akan kita temui dan ketika orang masuk Bengkulu akan terekam di memori mereka " Oh iya salah satu budaya Bengkulu adalah Tabot".
Jadi dalam membangun Bengkulu janganlah nganar nganar....semaunya saja. Bengkulu adalah Masyarakat Adat, ada adatnya, ada Budayanya, ada BMA-nya. Ajak rembuk "DUDUK BESILO MAKAN BESAMO"...Klir masalahnya.
Jangan kita berpaham : "Ah itu ide bagus, bangunannya keren, kelak bisa menjadi destinasi wisata" ini ngaco, ucapan orang yang nggak peduli dengan adat orang...yang nggak ngerti " DIMANA BUMI DI PIJAK DI SITU LANGIT DI JUNJUNG".
Saya sebagai Masyarakat Adat dan juga Agamawan mengkritisi keras atas ide tersebut. Jelas bangunan itu. tidak mencerminkan "KEARIPAN LOKAL BENGKULU". Walaupun bagus...walaupun ber-Estetika tinggi tapi tidak "BER-ETIKA".
HM. Syakirin Endar Ali- ketua GKBM (Gerakan Komunitas Bengkulu Membangun)/ Pengamat Agama dan Budaya. (S1000).
- 322689 views