Skip to main content
x
Harga TBS Sawit Tinggi Hasil Panen Anjlok, Petani Kelapa Sawit Bengkulu Galau. Sabtu (21/01/2023) || (Gk.google.com)

Harga TBS Sawit Tinggi Hasil Panen Anjlok, Petani Kelapa Sawit Bengkulu Galau

Siberzone.id - Sejumlah petani kelapa sawit di Bengkulu mengaku galau dengan kondisi perkebunan kelapa sawit, sebab terjadi penurunan jumlah hasil panen yang ekstrem. 

Meski saat ini harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terbilang tinggi, namun petani merasa kurang mendapatkan penghasilan yang berlebih. 

Dedi, salah satu petani kelapa sawit yang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah menjelaskan, dahulu dalam satu hektar ia bisa menghasilkan 1,2 ton TBS, namun saat ini hanya 400 kilogram saja. 

"Jauh sekali menurun hasil panen, memang kami tidak bisa melakukan pemupukan karena harga pupuk yang sangat mahal," ujar Dedi, Sabtu (21/01/2023). 

Jika dipaksakan membeli pupuk, maka Dedi takut anak dan istrinya tidak makan untuk beberapa hari kedepan. 

"Kami ini galau, kami mau beli pupuk tetapi harus siap tidak makan sampai panen berikutnya, sedangkan efek pupuk ini baru terasa 6 bulan kemudian," ungkapnya.

6 Bulan Tanpa Kabar, Ketua DPRD Bengkulu Tengah Pertanyakan Kelanjutan Program Replanting Sawit.

TBS sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah menurun, harga Sawit pun ikut-ikutan turun, Selasa (13/12/2022).

Pasokan TBS sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah menurun, harga Sawit pun ikut-ikutan turun, Selasa (13/12/2022).

Jika dipaksakan membeli pupuk, maka Dedi takut anak dan istrinya tidak makan untuk beberapa hari kedepan.

"Kami ini galau, kami mau beli pupuk tetapi harus siap tidak makan sampai panen berikutnya, sedangkan efek pupuk ini baru terasa 6 bulan kemudian," ungkapnya. 

Berbeda dengan Aswin, salah satu petani asal Bengkulu Tengah yang mengaku hasil panennya tetap seperti biasa dan belum ada penurunan hasil panen.

"Ada turun sedikit sekitar 25 persen, tetapi dalam satu hektar itu masih bisa menghasilkan 1 ton TBS," ujar Aswin. 

Hal tersebut terjadi lantaran Aswin tetap melakukan pemupukan secara berkala setiap empat bulan sekali. 

"Saya biasa pakai pupuk NPK, tapi memang uang yang harus dikeluarkan sekali memberi pupuk cukup besar, bisa sampai Rp 25 juta untuk 12 hektar lahan," katanya.(Sbz/0001)